Isu Deforestasi Dalam Paradigma Sosiologi Agama

 Isu deforestasi menjadi topik yang ramai diperbincangkan semenjak adanya kebakaran hutan di Kalimantan, kala itu banyak netizen hingga akademisi yang mulai ikut mensoroti isu tersebut. Isu ini kembali ramai ketika Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar yang menyatakan pembangunan di era Jokowi tak boleh berhenti hanya karena alasan deforestasi (penebangan hutan) dan upaya mengurangi emisi karbon. 

Melalui Twitter pribadinya bu menteri menyampaikan ulang saat memenuhi undangan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Universitas Glasgow, Skotlandia, pada Selasa (2/11). Pernyataan yang menjadi diskusi publik yaitu “Pembangunan besar-besaran era Presiden Jokowi tidak boleh berhenti atas nama emisi karbon atau atas nama deforestasi”. 

Tidak bisa dipungkiri bahwa di tahun ini bencana alam berupa banjir bandang dan longsor terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Hal ini menjadi masalah bangsa sekaligus negara dalam menanggulangi bencana dan dampak yang ditimbulkan. Tidak hanya kerugian material yang ditimbulkan tetapi jiwa dan sosial. Semenjak kebakaran hutan yang terjadi di Kalimantan kala itu, menjadi catatan penting mengingat hutan di Kalimantan adalah salah satu hutan dunia yang amat diperhitungkan keberadaannya dan menjadi salah satu harapan bagi tersedianya udara segar di muka bumi, maka segala sesuatu yang terjadi atas hutan Kalimantan pasti akan menjadi sorotan internasional. Terlebih jika berita yang muncul adalah seputar pengawahutanan, penggundulan dan penghilangan hutan atau deforestasi, 

Pasalnya, berdasarkan informasi yang dirilis oleh prakiraan cuaca Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di wilayah Kalimantan Tengah, bahwa musim kemarau akan terjadi di awal bulan Agustus dan mencapai puncaknya pada bulan Desember 2022. Kemudian, Pemerintah meminta jajarannya untuk membentuk Satgas penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dengan melibatkan Unsur Tripika (Kecamatan, Polsek dan Koramil) kemudian Tokoh Adat, Masyarakat dan Relawan. "Nantinya satgas tersebut akan melakukan kegiatan sosialisasi dan himbauan kepada masyarakat agar tidak membakar hutan dan lahan," imbuh eks Kepala Dinas PU (Pekerjaan Umum) Provinsi Kalteng tersebut.

Perlu kita ketahui bahwasannya deforestasi adalah suatu peristiwa hilangnya hutan alam beserta dengan atributnya yang diakibatkan oleh penebangan hutan. Penebangan hutan sendiri bertujuan mengubah lahan hutan menjadi non hutan. Dalam KBBI disebutkan deforestasi adalah kegiatan penebangan kayu komersial dalam skala besar. 

Di Indonesia tingginya angka deforestasi di Indonesia sangat berhubungan erat dengan permintaan lahan untuk konversi pertanian dan pertambangan. Pemanfaatan alam dan lingkungan hutan di mana manusia termasuk di dalamnya, dapat dianalisis dengan pendekatan culture ecology (ekologi budaya) seperti yang dikatakan oleh J. Steward (1976:39-42) yang memposisikan manusia dan lingkungan merupakan satu ekosistem yang tidak dapat dipisahkan. 

Hubungan manusia dengan lingkungan dalam Sosiologi dilihat dari masyarakat yang membentuk sebuah sitem yang terdiri dari masyarakat tumbuh-tumbuhan dan masyarakat binatang yang terbentuk oleh adanya asosiasi. Deforestasi pada dasarnya adalah tindakan manusia yang bertujuan untuk kepentingan aktivitas manusia yaitu mengubah fungsi hutan. Tindakan manusia melakukan deforestasi dapat dinilai dalam pradigma Max weber yang mengatakan masyarakat adalah produk dari tindakan-tindakan individu tindakan dalam kerangka fungsi nilai, motif, kalkulasi rasional. Karena itu penjelaskan tentang sosial berarti harus menyadari kemana tindakan manusia diarahkan. Dapat diartikan bahwa manusia dalam melakukan tindakan sosial yaitu dengan mempertimbangkan sisi rasional dan non rasional. Hal ini sejalan dengan tipe-tipe tindakan sosial yang dikemukakan Weber. Weber membedakan antara empat jenis utama dari tindakan sosial zweck rational, werk rational tindakan afektif dan tindakan tradisional.

Dalam pertimbangan nilai ini untuk melakukan tindakan biasanya kita memakai barometer agama, norma, budaya dan lainya. Misalnya mendasari tindakan atas nilai agama, orang yang mencari kedaimaian dengan cara berdoa dan berdzikir. 

Ini tidak bisa dianggap remeh. Mengingat pelestarian alam adalah kekayaan dan penyeimbang kehidupan antara manusa hewan dan tumbuhan Dalam agama juga dijelaskan konsep penjagaan keseimbangan ekosistem menjadi sangat penting. Konsep pelestarian alam dalam Islam selayaknya menjadi pegangan setiap muslim melakukan aktivitas yang berhubungan langsung dengan alam atau lingkungan. 

Eksplotasi hanya akan menyebabkan kerusakan bahkan kehancuran, yang muaranya adalah bencana dalam bentuk banjir atau longsor dan dalam banyak tragedi bencana yang disebabkan oleh kerusakan alam. Maka sudah sepantasnya masyarakat untuk melakuakan pelestarian alam dan tidak mengatasnamakan hanya untuk kepentingan jangka pendek. Deforestasi harus dikaji lebih jauh dan tidak hanya ambisi ekonomi saja yang diuatamakan tetapi mempetimbangkan pelestarian alam. 

Komentar